Pendaftaran Magang Ke Jepang bagi Careworker lulusan D3/S1 Keperawatan atau Kebidanan MASIH DIBUKA!

Kami Yayasan BIMA dan PT JIAEC masih membuka kesempatan besar bagi calon careworker lulusan S1 atau D3 Keperawatan ataupun Kebidanan untuk mengikuti program magang ke Jepang. PENDAFTARAN MASIH TERUS DIBUKA.

  • Laki-laki/ Perempuan Lulusan D3/S1 Keperawatan/Kebidanan

  • Belum menikah atau single

  • Usia maksimal 24 tahun

Jika sudah memenuhi persyaratan, segera hubungi kontak person di bawah ini:

PT.JIAEC (021) 29841601/97 atau HP 085286000810

Alumni BIMA Angkatan 5 dan 8 Berhasil Mengikuti Speech Contest di AOTS Jepang

Kabar gembira yang kami dengar bahwa salah satu alumni BIMA bisa menjadi peserta speech contest yang diadakan oleh AOTS di Tokyo-Jepang. Speech contest ini yang diadakan ke 7 kalinya ini dilaksanakan pada tanggal 29 september 2018 yang dikuti oleh peserta program EPA dari berbagai Negara termasuk Indonesia. Speech contest ini ditujukan untuk orang asing yang terlibat dalam pekerjaan keperawatan dan turut diberitakan disalah satu program televisi Jepang yang bernama NHK dan wesbite resmi AOTS Jepang.

^3E283297234047C08875666D81DE72EDCA39FA7F1A36C1D900^pimgpsh_fullsize_distr

Alumni Yayasan BIMA angkatan ke 8 bernama Muhammad Fatah Hudin yang berasal dari Bogor Jawa Barat ini adalah siswa program EPA yang kini sudah bekerja sebagai Careworker di Panti lansia Jepang tepatnya di Daerah GIFU-Jepang. Selama mengikuti pelatihan di BIMA, Fatah adalah salah satu siswa yang rajin, bersemangat, dan aktif belajar bahasa Jepang. Hobinya menonton anime dan suka dengan lagu Jepang ini membuat Fatah merasa tidak kesulitan untuk belajar bahasa Jepang dan selalu menjadi salah satu siswa yang berprestasi.

Setelah mulai bekerja, Fatah terus berjuang untuk belajar bahasa Jepang terutama istilah-istilah keperawatan dalam bahasa Jepang supaya bisa mempersiapkan Ujian Nasional Keperawatan yang akan dihadapinya nanti.

 

Dalam Speech Contest Fatah menyampaikan bahwa semenjak salah satu pengguna jasa jatuh sakit dan akhirnya dibawa ke Rumah sakit, dia merasa sedih karena banyaknya kenangan yang teringat selama merawat pengguna jasa tersebut. Dari pengalamannya itu, Fatah menyadari bahwa tanggung jawabnya sangatlah besar untuk melindungi nyawa seseorang. Bersama dengan tanggung jawabnya itu, Fatah ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain dan berjuang untuk menjadi careworker yang bersertifikat.

Priyo Kusumo juga salah satu Alumni BIMA angkatan ke 5 yang lebih dulu menginjakkan kakinya di Jepang sebagai careworker. Siswa yang humoris dan semangat belajar bahasa Jepang ini merupakan salah satu siswa yang berprestasi. Priyo juga mendorong adiknya untuk bekerja sebagai careworker di Jepang dan belajar di BIMA sebagai siswa program EPA. Kini adiknya Priyo sudah bekerja di salah satu Panti di Jepang.

 

Dalam pidatonya Priyo bercerita bagaimana jadinya jika ada robot perawat yang melakukan pekerjaan keperawatan. Hal ini pun dia tanyakan kepada salah satu stafnya di Panti dan stafnya menjawab bahwa robot tidak bisa dipercaya dan manusia jauh lebih bisa diandalkan. Hal ini pun dia tanyakan kepada salah satu pengguna jasa dan Beliau berkata “Robot itu tidak memilii hati dan kami tidak membutuhkannya”. Pelajaran baru pun disampaikan oleh Priyo bahwa secanggih apapun teknologi, robot pun tidak bisa menggantikan manusia. Dalam keperawatan teknologi memang penting tapi kasih sayang manusia jauh lebih penting dan Priyo ingin menyentuh pengguna jasa dengan cinta saat menggunakan teknologi.

Tidak hanya Fatah dan Priyo, terdapat beberapa peserta juga menjadi perwakilan dari Indonesia untuk berkompetisi dalam speech contest kali ini. Kami sangat bangga karena alumni BIMA seperti Fatah dan Priyo bisa menjadi perwakilan Indonesia sekaligus Yayasan BIMA dalam speech contest ini.

Persiapan Siswa BIMA Angkatan 10 untuk Pelatihan PPPPTKI

Terhitung dari tanggal 4 Desember 2017 siswa BIMA program EPA telah menyelesaikan pelatihan Bahasa Jepang selama 10 bulan di Yayasan Bina Mandiri Asean. Setelah siswa lolos matching dari hasil Matching yang diumumkan oleh BNP2TKI pada bulan Oktober lalu, siswa dipulangkan dan menunggu kurang lebih 2 bulan untuk memulai Pra-pelatihan yang akan dilaksanakan  pada bulan November.

Tepat pada hari selasa, tanggal 20 November 2018, siswa secara resmi akan memasuki pelatihan bahasa Jepang lanjutan di PPPPTKI selama 6 bulan sebelum keberangkatan ke Jepang. Sebelum pelatihan bahasa dimulai, siswa akan mengikuti Placement test atau test penempatan kelas pada tanggal 21 November. Siswa akan diuji kemampuan bahasanya sebelum dimulainya pelatihan lanjutan dan kami harap siswa bisa memasuki kelas bahasa Jepang yang teratas.

KOHA6687

Selain itu, 6 orang siswa BIMA Program Magang yang merupakan Akselerasi dari program EPA sudah diberangkatkan ke Jepang pada tanggal 11 November dan peserta magang JIAEC tersebut akan melakukan pelatihan lanjutan di Narita-Jepang selama 1 bulan. Setelah menyelesaikan pelatihan lanjutan di Narita, peserta magang tersebut akan langsung bekerja di Panti Lansia masing-masing selama 3 tahun. Sementara siswa BIMA program EPA jika telah menyelesaikan pelatihan lanjutan di  PPPPTKI selama 6 bulan, siswa akan diberangkatkan ke Jepang dan harus mengikuti pelatihan lanjutan kembali di Jepang selama 6 bulan dan baru bisa mulai bekerja di Panti Lansia. Jika sudah lulus Ujian Nasional Keperawatan di Jepang, maka siswa bisa bekerja lebih lama di Jepang dan menjadi careworker yang bersertifikat.

Perbedaan program EPA dan program Magang salah satunya adalah jangka waktu pelatihan bahasanya yang berbeda. Meskipun siswa BIMA program EPA harus menjalani pelatihan bahasa yang cukup lama, kami yakin kemampuan bahasa Jepang siswa sudah tidak diragukan lagi dan siap untuk bekerja dan berprestasi di Jepang.